Banjir di Kaligawe

Banjir merupakan kata biasa yang selalu terngiang di telinga..Kalo bulan sudah mendekati Nopember, maka barang-barang di rumah saya sudah di-packing agar sewaktu-waktu air melimpah datang barang-barang bisa selamat.  Nopember dan Desember mungkin merupakan masa persiapan. Sedangkan Januari dan Februari merupakan masa penuh kenikmatan. Ya kata kenikmatan memang pantas kami ucapkan. La wong bagaimana tidak nikmat, air melimpah, ikan di sekitar kita bermain dengan tenangnya, hawa dingin makan nasi hangat, bagaimana tidak nikmat? Banjir ini sudah belasan tahun melanda kami, tapi kami tidak ingin pergi dari rumah ini. Sejak lahirnya kakak saya yang pertama tahun 1976. Hingga jabang bayi saya yang masih 6 bulan ngumpet di rahim ibunya ya banjir is always selalu ada di kehidupan kami. Tetapi banjir yang kali ini lebih parah dan lebih lama daripada banjir-banjir di tahun sebelumnya. Salah satunya ya disebabkan adanya Global Warming itu. Itu penyebab umum, yang lebih khusus lagi adalah tidak adanya sistem drainase yang baik di Kota Semarang ini.

Banjir di kampung saya yang terletak di kawasan Kaligawe Semarang ini, tidak lain dan tidak bukan hanya satu lakonnya yaitu lingkaran setan kekuasaan di kota Semarang. Kota Semarang atas sudah disulap jadi hutan beton tidak ada daerah resapan, daerah bawah di-urug (ditimbun), pantai di reklamasi tanpa perencanaan yang matang dan hanya demi menggenjot PAD yang tidak tahu masuk ke kantong-kantong siapa. Dengan tidak adanya resapan di kota atas, maka air dengan rendah hati akan meluncur ke bawah dengan senang hati tanpa sempat mampir ke tanah. Jadi bisa dipastikan air banjir akan berwarna coklat dan menyebabkan sedimentasi yang cukup tinggi sehingga sungai menjadi dangkal. Kalo sungai dangkal, namanya air ya akan mencari tempat yang bisa diraih.

Banjir di Kaligawe, kambing hitam dari lingkaran setan adalah Kali Tenggang. Kali tenggang belum dinormalisasi, karena ada rumah yang dibangun di atas sungai. Inilah yang menyebabkan banjir. Dan anehnya kenapa banjir ini selalu dikirim ke kampung saya? Karena eh karena hanya ada satu pintu pembuangan air yang ada di kampung saya. Air di Jalan Raya Kaligawe selalu menuju ke pembuangan itu. Banjir di kampung kami baru surut jika air di jalan kaligawe sudah surut dan Sungai Kaligawe tidak rob dan banjir. Dalam dua bulan terakhir ini saja sudah ada dua kali banjir besar, yang pertama banjir di bulan Januari selama 3 minggu berturut-turut, kemudian bulan Februari sekitar 2 minggu-an.

Tapi, syukur alhamdulillah banjir di sini tidak seperti yang di Pati, Kudus, dan Jepara. Banjir di sini tenang-tenang saja, sampai yang punya pemerintahan pun tenang-tenang saja sehingga tidak ada bantuan. Semoga Pemerintah kota Semarang sadar terhadap penderitaan warganya. Aaamiiiiinn

Ditulis dalam Cerita. Tag: , . Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: