Harga sebutir nasi

Seorang ulama dari Pekalongan yaitu HAbib Luthfi bin Yahya dalam suatu acara pengajian yang diselenggarakan oleh salah satu BUMN terbesar di Indonesia memberikan tausiyah tentang sebutir nasi.Beliau memberikan teladan bagaimana beliau mendidik keluarganya. Sebelum makan, dibiasakan membaca doa “Allahumma bariklana fimaa razaqtanaa waqina adzabannaar”. Lalu dimakanlah nasi itu. Ketika Habib Luthfi melihat ada sebutir nasi jatuh dari piringnya, beliau memungut nasi itu. Anaknya yang melihat kejadian itu bertanya “Wahai Ayah, kenapa Ayah memungut nasi itu, padahal kita masih punya banyak…”
Kemudian Habib menjawab “Anakku, kalau sekedar nasi, ibumu masih bisa menanak lagi, ayahmu insya Allah bisa membelinya beberapa kilo, tapi sadarkah kamu kalau proses penciptaan nasi ini sampai ke mulut kita begitu panjang prosesnya, dan kita tidak bisa menciptakan nasi ini.”
Allahlah yang menciptakan nasi ini. Kita tidak bisa. Kita harus menghargai siapa yang telah menciptakan nasi ini. Dan tak tahukah kamu, bahwa sebelum nasi ini masuk ke mulut kita butuh waktu berbulan-bulan untuk mengolahnya. Dari mencari bibit, menyemaikan, menanam, memupuk, menjaga kalau ada yang mengganggu tanaman padi, memanen, mengolah hingga lepas dari kulitnya sampai siap untuk disajikan di hadapan kita. Berapa banyak keringat yang sudah dikeluarkan oleh petani itu, berapa banyak waktu yang disediakan oleh petani itu?
Kita berdoa agar semua yang dilalui oleh nasi ini bisa mendapatkan berkah dan dijauhkan dari api neraka. Petani yang sudah menanamnya dan menjaganya, kerbau yang sudah membajak sawah, pegawai yang bertugas memisahkan padi dengan kulitnya, pedagang beras yang telah membeli lalu menjualnya, orang yang menanak beras ini, dan bahkan kita sendiri semoga diberi keberkahan dan dijauhkan dari api neraka.
Cerita ini hanya sepenggal kisah. tetapi kalau kita cermati sudah berapa banyak di antara kita yang sudah mensyukuri nikmat nasi yang sudah disediakan Allah di hadapan kita, sudah terbiasakah kita berdoa untuk nasi yang akan kita makan, sudahkah kita mensyukuri itu semua?
Semoga Allah tetap memberikan kita tetap iman dan tetap Islam, diberi lapang hati agar mudah menerima petunjuk, diberi kesehatan, dan diberi rizqi yang cukup mencukupi… Aaaamiiin…

Ditulis dalam Cerita. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: