BBM NAIK, PENDIDIKAN TAK TENTU ARAH

Posted: Juni 6, 2008 in Cerita
Tag:

Saya pikir pengumuman ada siaran rapat kabinet pada Jumat malam tanggal 23 Mei 2008 adalah untuk membahas kapan harga BBM akan dinaikkan. Yang ada di benak saya adalah saya masih mempunyai cukup waktu untuk membeli beberapa kebutuhan istri dan jabang bayi saya sebelum harga BBM naik, karena biasanya jika BBM naik, harga-harga barang yang lain juga ikutan naik (latah kalee…)

Saya tidur dengan nyenyak dan nyamuk malam itu.. dan masih bisa bermimpi indah..apalagi jauh dari istri..wah sudah rekor itu..Pagi harinya seperti biasa, habis mandi segera berbenah tak lupa lihat Headline harian SUARA MERDEKA, sepintas biasa saja. Tapi, ketika ada kata BBM di headline tersebut, jadi penasaran juga. Weladalah, kaget juga akhirnya. Ternyata BBM benar-benar naik. Dan yang membuat kuaget lagi adalah ternyata naiknya Sabtu dini hari pukul 00.00. Wah lemaz deh. Terbayang anggaran untuk transport bertambah banyak.. But not only but also kenapa why selalu always? Karena because jika if akan tetapi although.. Hidup adalah PERUBAHAN eh PERBUATAN, kata Chairil Anwar yang dikutip Sutrisno Bachir, Ketua PAN..

Ya begitulah, hidup harus dijalani dan kita harus berbuat. Jadi aja gumunan, aja kagetan, lan aja dumeh (menurut wejangan mbah Harto)

Tapi, bagi saya BBM naik tidak begitu menjadi masalah yang perlu dipikirkan serius. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana nasib anak-anak didik saya yang sekarang masih duduk di bangku SMA? Saya teringat pada seorang siswa saya sebut saja Ani. Dia anak pertama dari 4 bersaudara. Bapaknya seorang penjahit yang kadang terima jahitan kadang tidak, yang pasti adalah tidak pasti terima order. Selama saya menjadi wali kelasnya saya sering memutar otak bagaimana si Ani ini bisa sekolah dengan baik tanpa perlu memikirkan biaya. Untuk membiayai dia dengan dana saya kok rasanya saya juga mikir mampukah saya dengan honor guru GTT di sekolah swasta. Untunglah sekarang biaya sekolah Ani sudah ada yang menanggung. But akan tetapi, masalahnya adalah transport dia bagaimana. Sering kali dia jalan kaki dari rumah ke sekolah (pulang-pergi) sejauh 4 km hanya karena dia tidak punya uang untuk naik bis. Apalagi sekarang ongkos naik bis makin mahal. Ini baru Ani, anak pertama, trus bagaimana dengan adik-adiknya? Apa Bapaknya nggak kemutz-kemutz pusing tujuh keliling lingkaran Simpang Lima?

Belum sebentar lagi akan tiba musim pendaftaran sekolah. Saya memprediksikan, bisa saja terjadi ada sebagian orang tua memilih mundur untuk tidak menyekolahkan anaknya mengingat beban hidup yang semakin tinggi. Jika ini sampai terjadi bagaimana nasib anak-anak usia sekolah yang ada di negeri ini? Akankah anak-anak ini akan mengikuti pendidikan yang layak? Ataukah kembali ke jaman dahulu kala, hanya anak-anak yang mampu saja yang bisa bersekolah?

Apa kata DUNIA?

Mau dibawa kemana pendidikan negara kita? BBM oh BBM…

Komentar
  1. kenapa_tanya mengatakan:

    Memang sih.. Bagaikan makan buah simalakama… Tapi kita juga harus menelaah lebih dalam, kenapa pemerintah ambil keputusan itu, kan juga untuk generasi muda selanjutnya bisar utang ngga makin numpuk…

  2. hamsin mengatakan:

    itu lah nasib bngsa kita mau disubsidi trus BBm justru menyulitkan perekonomian bangsa tapi dinaikkan rakyat kecil jadi korban…ada apa dengan indonesia??

  3. Diannisa Natanegara mengatakan:

    mas .. salah, kata pak Soetrisno Bachir mengutip dari Chairil Anwar..Hidup adalah perbuatan

    salam Merdeka!!

  4. Nita mengatakan:

    yah…. itulah Indonsia
    yang kaya maki…………………..n kaya ,yang miskin kasian deh seperi kita2 ini. Tapi yakin aja Tuhan tidak memberikan ini kepada kita kalau kita mampu mengatasinya
    tetaplah semangat dan semangat pagi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s